Suatu senja di rumah kotak-kotak yang sempit bersusun-susun, terjadilah dialog singkat antara Bening dan Waktu. Mari kita ikuti perbincangannya :-D
Bening: "Waktu, kamu bisa enggak mundur sedikit aja. Ke belakang 3 jam lagi deh. Bisa kan? Pleaseeee... " (merajuk)
Waktu : "Enak aja ente ngemeng, satu detik pun aku nggak bakalan mau mundur atau maju." (mencak-mencak)
Bening: "Bukan begitu Tu (panggilan mesra untuk waktu), kerjaanku masih banyak banget neh. besok dedline, belum lagi nyiapin untuk acara hari Ahad besok. Aku belum selesai. Tolonglah waktu... mundur sedikit saja, mau ya? plisss..." (menghiba-hiba)
Waktu: "Nah... nah... nah... ini nih sifat manusia yang nyebelin. Selama banyak waktu senggang disia-siain. Begitu waktunya udah mepet, baru kelimpungan. Manajemen waktu dong!!!" (menatap Bening dengan tajam)
Bening: "Aku sudah berusaha untuk mengelola waktuku dengan baik. Tapi kau lihatlah sendiri, kewajibanku lebih banyak dari waktu yang tersedia. Bagaimana aku bisa menyelesaikannya kalau begini?" (memperlihatkan tumpukan kertas dan proposal yang harus segera diselesaikan hari ini juga pada Waktu. Menundukkan wajah. Hening sejenak)
Waktu: "Bening, bukannya aku nggak mau bantu kamu, tapi kamu juga coba bayangkan seandainya aku mundur atau maju satu detik saja dari waktuku yang sekarang. Apa yang akan terjadi? Kekacauan dimana-mana. Dan itu sama artinya aku menyalahi kodratku. Aku tidak bisa berhenti atau berlari sekehendakku. Aku sudah ditetapkan untuk bergulir sesuai dengan porsiku sebagai hamba."
Bening: "Yah, kamu benar. Tetapi kadang aku berharap bahwa sehari itu ada 48 jam, bukan 24 jam..."
Waktu: "Ngimpi lo? ya ga bakalan bisalah." (melotot ke Bening yang cengar-cengir).
Waktu: "Lagian ya, kamu itu aneh. Udah tahu waktumu sempit, masih juga eFBian. Mendingan kamu kerjain tugas-tugasmu itu biar cepat kelar!!!" (nendang Bening)
Bening: "Iye... iyeee... gue khilaf. Galak amat sih. Kan gue tadi cuma berusaha tawar-menawar aja ama ente. Ga bermaksud lalai." (teriak-teriak)
Waktu: "Ya udah sono buruan selesain kerjaanmu. Iihhh empet banget deh gue sama anak yang satu ini." (ambil sapu dan siap-siap nyapu. Loh? Bukan, yang benar waktu siap-siap berlalu lagi untuk menuju detik berikutnya)
Itulah perbincangan Waktu dan Bening di suatu senja di rumah kotak-kotak sempit tempatnya belajar mengeja, yang selalu memberikan banyak inspirasi buatnya. ^________^
Masa ibarat nyawa bagi manusia/ Mestilah diurus dengan bijaksana/ Hargailah masa dengan sebaiknya/ Supaya tidak rugi//
Renunglah masa yang telah berlalu/ Ia tak akan boleh datang kembali/ Ambillah iktibar untuk diteladani/ Agar terbentuk peribadi yang murni//
(Masa, Rabbani)
Rumah kotak-kotak, 220410; 05.30 pm
Hanya sekedar catatan kecil saat diuber-uber waktu, lebih tepat saat kerjaan menumpuk :-D
Salam
Bening Sanubari
Rabu, 09 Juni 2010
Rabu, 02 Juni 2010
Tafakur Waktu
– Vie, mari jeda sejenak menghitung desah nafas yang kian kendur *)
Aku tidak tahu apakah pengulangan hari saat pertama kalinya raga bersentujan dengan udara itu harus dirayakan dengan gempita atau justru diratap dalam nestapa
Yang gamblang hanyalah deretan angka tersaji apik dalam gelembung yang bertambah
Sementara akumulasi waktu kian menepi di ujung setapak sunyi
Bermuhasabah dalam jajaran masa yang tinggal slide-slide sejarah dan menatap sisa jeda dalam kobaran mimpi yang tak mati; mungkin itu yang mesti dipatenkan agar bisa maknai tujuan hidup dari ‘Sang Hidup’ itu sendiri.
Dan hari ini, sekali lagi Sang Hidup menitahkan waktu untuk mencumbumu dalam keluasan kesempatan yang diselempangkan pada pundakmu.
Kau dengarkah talunya yang bergemuruh dzikir dalam kidung semesta?
Kini, di ujung sajadah basah kuukir namamu dalam prasati hati yang tak mati beradu pada sebait sajak yang terpintal dalam senyawa bernama cinta;
“Asaku: usiamu adalah keberkahan yang tak lekang meski nanti masa menggulungmu dalam undangan perak yang tak tertawar. Dan kau tak sekedar mencium wewangian surga
namun engkau akan turut pula bermesraan di dalamnya pada taran sacral cinta-Nya yang tak bertepi ketika sangkakala diperdengarkan di penjuru semesta.”
Jakarta, 080410: 23.50
Salam
Bening’s
Langganan:
Postingan (Atom)