Ben ing sanubari

Rabu, 02 Juni 2010

Tafakur Waktu

– Vie, mari jeda sejenak menghitung desah nafas yang kian kendur *)

Aku tidak tahu apakah pengulangan hari saat pertama kalinya raga bersentujan dengan udara itu harus dirayakan dengan gempita atau justru diratap dalam nestapa
Yang gamblang hanyalah deretan angka tersaji apik dalam gelembung yang bertambah
Sementara akumulasi waktu kian menepi di ujung setapak sunyi
Bermuhasabah dalam jajaran masa yang tinggal slide-slide sejarah dan menatap sisa jeda dalam kobaran mimpi yang tak mati; mungkin itu yang mesti dipatenkan agar bisa maknai tujuan hidup dari ‘Sang Hidup’ itu sendiri.

Dan hari ini, sekali lagi Sang Hidup menitahkan waktu untuk mencumbumu dalam keluasan kesempatan yang diselempangkan pada pundakmu.
Kau dengarkah talunya yang bergemuruh dzikir dalam kidung semesta?
Kini, di ujung sajadah basah kuukir namamu dalam prasati hati yang tak mati beradu pada sebait sajak yang terpintal dalam senyawa bernama cinta;

“Asaku: usiamu adalah keberkahan yang tak lekang meski nanti masa menggulungmu dalam undangan perak yang tak tertawar. Dan kau tak sekedar mencium wewangian surga
namun engkau akan turut pula bermesraan di dalamnya pada taran sacral cinta-Nya yang tak bertepi ketika sangkakala diperdengarkan di penjuru semesta.”


Jakarta, 080410: 23.50
Salam
Bening’s


Tidak ada komentar:

Posting Komentar